Testament: Live in London
(DVD/2005)
Dari yang gue tau, banyak tulisan2 yg bilang kalo live-nya Testament tuh bener2 pertunjukan musik thrash metal yang bener2 murni. Skill personelnya emang tinggi banget. Intens, tight, keras dengan power yang mengalir konstan dari awal sampe akhir. Ga ada macem2 aksi panggung, atau dandanan aneh2 (mereka semua pake baju item), panggungnya juga bukan panggung raksasa n cuman dipasangi efek2 lampu standar, kadang2 ada sedikit dry ice, tapi ga banyak. Pemain bandnya blocking posisi 5 personel, ga banyak pergantian blok, semua asik menguasai 'lahan' mereka.. ga ada jingkrak2, semua menikmati permainan instrumen masing2. Bener2 konser reuni yang mengagumkan.
Dari awal sampe akhir, Chuck Billy yang lebih banyak komunikasi sama penonton, sesekali dia memperkenalkan (kembali) personel asli Testament kepada penonton. Mulai dari Alex Skolnik si lead gitar yang mengundurkan diri tahun 92 buat gabung sama Savatage, trus kemudian keluar dan solo karier membentuk grup kuartet gitar jazz (itu sebabnya dia satu2nya yang ga berambut gondrong malam itu), trus ada Greg Christian, pembetot bas yang keluar setelah album Low taun 95. Terakhir ada Louie Clemente si ahli drum mesin yang keluar juga setelah rilis album The Ritual taun 92. Drummer panggung Testament saat ini sekarang dipegang oleh John Tempesta yang pernah main di Anthrax. Soal penggebuk drum, Testament memang ga pernah punya yang tetap, setelah Louie, ada Paul Bostaph, John Tempesta, Dave Lombardo (Slayer), Jimmy DeGrasso (White Lion & Suicidal Tendencies) dan trus balik lagi ke John Tempesta. Jadi otomatis selama dari awal kariernya cuma Chuck sama Eric Peterson yang tetap berjuang mengibarkan bendera Testament.
Lagu-lagu yang dibawain diambil dari 5 album pertama mereka aja. Jadi lagu-lagu wajib macem The Preacher, Disciple of the Watch, Over the Wall, The New Order, Practice What You Preach, Souls of Black bakal bisa dinikmati di sini. Tambahan lagi ada lagu Sins of Ommission yang asik banget dibawainnya. Mereka memang hebat banget. Stamina bener2 terjaga dari awal sampe akhir, padahal mereka ga bisa dibilang muda lagi, meskipun juga ga tua2 amat.
Untuk perbandingan, gue nyoba lagi denger album Live At the Fillmore yang direkam taun 95. Ternyata ga ada bedanya dulu sm sekarang. Testament msh tetep mainin musik di panggung the old school way. Yang beda adalah, suara Chuck Billy dulu ga banyak growl-nya, dibandingin sekarang. Tapi dengan growl jd lebih keren sih.
Eric Peterson, si raja rhythm gitar, ga banyak nambahin variasi di riff2 ciptaan dia. Semua dimainin persis sama kaya di rekaman aslinya. Sementara Alex tetep ga kehilangan 'touch'nya dengan memainkan melodi-melodi yang mengalir dengan presisi tinggi di setiap bar lagu yang harus diisinya. Kadang-kadang duet dengan Eric memainkan melodi solo. Top banget.
Mungkin elo2 ngerasa gue agak bias waktu ngegambarin penampilan Testament di atas panggung ini, karena mungkin udah pada tau semua kalo Testament tuh was my thrash metal hero waktu gue masih SMP. Tapi gue tegasin sekali lagi: itu semua ga mempengaruhi judgement gue. Testament is the greatest live and recording thrash. Jangan salah, gue seneng juga sama Megadeth dan Sepultura, tapi waktu gue nonton Rude Awakening (DVD live-nya Megadeth), gue bener2 ngerasa ketipu.. ternyata segini aja ni Megadeth kl di atas panggung, atau Sepultura atau Pantera.. semua ga kerasa intens mainnya. Kalo gue mo nyalahin umur mereka yg rata2 emang rata2 udah di pertengahan 40, kayanya kok ga adil, soalnya toh mereka juga seangkatan sama Chuck Billy cs.
Ga ada yang tau formasi reuni ini bakal langgeng atau engga. Menurut website-nya sih Testament lagi nyoba bikin album dengan formasi original ini dan mudah2an bisa rilis taun 2006 ini. Semoga aja.
PupStar
Monday, August 28, 2006
Thursday, December 29, 2005
Shed Seven: The Collection (CD Audio)
Shed Seven: Where Have You Been Tonight? Live (CD Audio)
Kalau saja album ini dirilis 2 atau 3 tahun lebih awal, mungkin masih banyak orang yang bakal menyambut album live yang luar biasa ini, tapi tidak di tahun 2003. Bahkan sebuah performa live yang sangat tight yang selalu ditunjukkan the Sheds tidak bisa membuat album ini bicara banyak. Anyway... a solid performance from a solid aging band. Excellent.
Sarah McLachlan: Afterglow Live (DVD)
Apart from a director whose relationship with his subject seems skittish--there's a shyness about the DVD, as though the camera was afraid to linger on its subject too long--and the CD's lamentable incompatibility with iPods, "Afterglow Live" leaves little to nitpick over. Nearly two dozen songs, zigzagging across Afterglow, Fumbling Towards Ecstasy, and Surfacing, solidify McLachlan's reputation as a peerless performer on the DVD; the careful attention she layers over these already full-bodied, melodic songs gives each additional shape, as if she were singing them for the first time, and her easy magnetism in front of a mic draws her wholly rapt audience in close enough to feel her guitar strings vibrate. The same likable star quality carries over to the CD, a 15-song sampler culled from the DVD's 2004 Toronto concert. Though fans of less weighty McLachlan material may miss the comparative wispiness of confections like "Ice Cream," her full-throated pourings-on for "Building a Mystery," "Angel," and "Train Wreck," among others, will keep Afterglow Live's bulb burning brightly for years to come.
Friday, March 18, 2005
Travis Live at The Palace (DVD)
WEA Int.DVD Travis live di Alexandra Palace, London. Konser yang diadakan 20 Desember 2003 ini disaksikan lebih dari 8000 penonton. Venue-nya mungkin terlalu ke-gede-an untuk band dengan jenis musik seperti Travis. Tapi band Skotlandia ini membuktikan bahwa mereka bisa tampil keras namun tetap terdengar jernih dan bersih tanpa terdengar berisik dan sember.
Musik Travis yang 'delicate' ternyata mampu juga memompa enerji penonton. Konser pendukung album 12 Memories ini memang top banget. Cuma sepertinya sutradara, atau org yang bertanggung jawab buat jadi pengarah kamera kurang bisa mengambil momen-momen yang bagus yang mestinya banyak ketangkap di sini.
Kualitas DVD-nya sendiri bagus. Gambar cukup tajam dan suara yang tersaji juga keren banget untuk dinikmati make sistem 2 channel atau 5 channel.
Sayangnya Travis memang ga bisa memenangkan perhatian media yang mungkin lebih senang menyoroti band-band baru yang banyak sensasi, dibanding Travis yang selalu adem2 aja.
Rating: (****) Excellent
MANIC STREET PREACHERS - LIFEBLOOD (CD Audio)
Sony/Epic 2004
Siapapun yang kenal The Manics dari awal, pasti bakal memahami album ini dengan perasaan yang dalam. Saya juga. Saya tidak menyatakan diri sebagai penggemar Manics paling berat di dunia. Nope! Masih ada orang yang pantas menyebut dirinya seperti itu daripada saya. Tapi tak salahlah bila saya menyatakan bahwa saya menjadi dewasa bersama musik mereka.
Manics yang ini bukanlah Manics yang dulu. Memang mereka masih bubbling dan bermulut besar dengah lirik-lirik lagu yang ingin terlihat cerdas, dengan latar belakang banyak referensi sastra berat yang bakal membuat malu jika dibandingkan skripsi sarjana saya. Does that make them heavy? Does that make me shallow? Cuma orang yang memahami yang bakal melihat dan mengerti perbedaannya.
Di tahun 1991, di saat orang masih terpana dengan album fenomenalnya GnR Appetite for Destruction dan Use Your Illusions I+2, saya melihat Manics, dengan tawaran Generation Terrorrist-nya yang lebih liar, low-budget production, permainan musik yang 'standar banget', tapi lirik yang cerdas dan pedas. Empat anak muda yang besar mulut, high ambition, but minimum talent! (Kecuali mungkin untuk James dan Sean, yang mengerjakan seluruh musik untuk Manics).
Sejauh mana Lifeblood dibandingkan dengan GT? Wah kok sepertinya jauh banget, ya? Mereka dulu ber-4, sekarang cuma ber-3. Dulu mereka masih muda dan senang neko-neko, sekarang rata-rata akhir 30 dan (terpaksa) memandang hidup secara lebih realistis.
Tawaran album ke-7 dari The Manics menggambarkan sejauh mana mereka sudah berubah jadi dewasa. Know Your Enemy mungkin usaha terakhir mereka untuk tetap terlihat muda (sepertinya), tapi Lifeblood menunjukkan bahwa menjadi dewasa bukanlah hal yang terburuk. Jadi dewasa bukan alasan juga untuk tidak menendang dan terasa menggigit (dengan cara yang lebih halus, tentunya!)
Banyak sound yang menarik yang ditawarkan Lifeblood. Lagu-lagu Manics yang bisa didengarkan sambil duduk dengan mata terpejam. This is how mature band should be heard! They are better player now. Kalau Manics masih mau bikin album seperti Generation Terrorrists, berarti ada yang salah di sini. Kalau Manics mau bikin Holy Bible part 2, that would be a joke of the century.
You want to hear punk? Go and see Simple Plan or Avril Lavigne. Or worse... denger aja Josh Groban!
Rating (****) Excellent@best!
INTERPOL - ANTICS (CD AUDIO)
Matador Records 2004
Soal musik, seperti di album 'Turn on the Bright Lights', di album kedua ini Interpol masih membawa tema-tema gelap, tapi dengan semangat yang lebih ceria. Lagu-lagu dengan tempo cepat lebih banyak ditemukan di sini dibandingkan di Bright Lights, seperti Slow Hands, Evil, C'mere, dan Not Even Jail.
Dibuka dengan lagu Next Exit, yang sudah jadi lagu pembuka favorit tur-tur mereka. Semangat optimisme sudah muncul di lirik lagu ini, "We ain't going to the town, we're going to the city. We're gonna trek this shit around
and make this place a heart to be a part of... Again." Uniknya, lagu ini dinyanyikan lebih dengan nada depressed dan jauh dari ceria.
Lagu-lagu lain yang lebih radio-friendly, Slow Hands dan Evil merupakan single pertama dan kedua. Evil juga salah satu track yang lebih telinga-friendly yang bisa membawa The 'Pol didengar ke pendengar yang lebih reguler. Dibuka dengan permainan bass Carlos, disambung dengan Paul "Rosemary... heaven restores you in life..." dan selanjutnya adalah sebuah track dengan lirik yang cukup romantis -in a way!
Antics ditutup dengan A Time To Be So Small, yang sebenarnya bukan lagu baru. Di album ini lagu dimix ulang dan jadi lebih bass-driven dan tight. Versi sebelumnya lebih spacious dan ambient, yang menurut saya jauh lebih cocok untuk tema lagu ini. Saya agak malas mendengarkan versi yang terbaru, jadi pas lagu terakhir, selalu saya skip.
Antics juga punya satu fitur OpenDisc, yang bekerja jika CD-nya dimasukkan ke CD ROM komputer. Kita akan bisa terhubung dengan sebuah server yang memungkinkan kita untuk mengakses materi-materi menarik, seperti lagu Song Seven, video klip terbaru dan lain-lain.
Anyway, Antics merupakan satu langkah jauh ke depan dibandingkan Bright Lights. Ibaratnya seperti sinar terang yang sudah menyala buat Interpol. Standout album, meskipun mungkin memang tidak akan mendapatkan sukses komersial yang sebanding. But at least Interpol choose bright light daripada jadi band yang terkucil sendiri dan dilupakan orang. Rating (****1/2) Just perfect.
Monday, January 31, 2005
Pulp - Hits (2003/DVD)Sampe taun 1998, gue bukan penggemar berat PULP. Baru setelah mereka keluarin This Is Hardcore, gue langsung menyatakan bahwa mereka memang layak didengarkan dan dapet perhatian lebih. Dan memang bener, PULP adalah band paling original, baik secara musik, lirik, maupun personilnya yang loe denger dalam 15 taun ke belakang ini.
Sukses album Different Class ternyata engga membuat PULP beranjak jadi artis multijutakopi dan jadi mainstream. No. Mereka pilih jalan self-destruct dan ngerilis album anti-pop This is Hardcore. Brilliant. Album itu jelas2 ga sukses di pasar, tapi sukses menyaring penggemar asli mereka. Secara musikal memang rada istimewa, Hardcore justru jauh lebih njelimet dibandingin album2 PULP yang lainnya. Bahkan untuk itungan Freaks atau It sekalipun.
Album berikutnya, We Love Life, dirilis taun 2002. Masih tetep PULP dengan lirik2 pervert-nya Jarvis Cocker. Meskipun lagu Trees menunjukkan gejala2 sukses di pasaran, terbukti dengan radio-play yang lumayan, tapi taun 2000an udah jelas2 bukan punya PULP. Mereka tetep jadi sideshow dan bukannya mainshow. Mungkin memang udah saatnya encore dan tutup tirai buat PULP. For their own good, I guess.
Sebuah koleksi videography lengkap dari PULP di masa major label mereka di Island Records. Ditambah dengan beberapa film pendek, koleksi live dan lain-lain yang kayanya ga berguna amat.
DVD ini bakalan ngasih gambaran buat elo semua, pernah ada satu band yang unik dari Sheffield, dengan musik dan lirik yang cerdas, dan mereka pernah berada di puncak karier mereka dan berenti sebelum jatuh (dengan keras). Rating: *** (average)
Tuesday, December 07, 2004
Portishead - Live At The Roseland Theatre [1998]/(DVD)
Songs: Humming, Cowboys, All Mine, Half Day Closing, Over, Only you, Seven Months, Numb, Undenied, Mysterious, Sour Times, Elysium, Glory Box, Roads, Strangers, Western Eyes
Bonus short films: Road Trip, Wandering Star, To Kill a Dead Man
Bonus videos: Numb, Sour Times, All Mine, Over, Only You
Amazing. Hal pertama yang harus gue ingatkan adalah: DVD ini bukan buat semua orang. Portishead memang bukan buat semua orang. Cuma segelintir orang yang bisa bener2 nikmatin musik sebagai bahasa universal. Jika Anda termasuk dalam kategori tersebut, then buy this DVD. Buy all Portishead records. Buy Beth Gibbons solo albums. And get high...
Gue ga akan cerita tentang Portishead. Gua cuma pengen berbagi pengalaman gue ketika untuk pertama kali nonton DVD ini. Let's get start.
Gue tau ini bukan cuma sekadar DVD performance biasa. Untuk bisa dapet 'experience' dan atmosfir itu, gue butuh suasana dan peralatan yang tepat. Maka untuk keperluan nonton, gue pindahin TV+DVD stereo set gue ke kamar. Gue pake speaker multimedia Creative Inspire 2400. So ga ada masalah sama kualitas suara. Lampu gue matikan, dan mulailah pengalaman yg ga terlupakan.
Gue berada di Roseland. Ini tahun 1998. Portishead lagi ada di puncak karier mereka. Production untuk konser ini bener2 luar biasa. Geoff Barlow, Beth Gibbons, Adrian Utley, Andy Smith, Clive Deamer, John Baggot, ditambah 5 horn ensemble section dan sekitar 30 anggota NY Philharomnic Orchestra. Bener2 luar biasa. Kualitas suara yang dihasilkan bener2 sempurna. Geoff Barlow bener2 seorang perfeksionis.
Dimulai dari lagu Humming. Terakhir Strangers. Gila. Membuat badan saya lemas. I'm in heaven. Orgasm. Ecstasy.
I will not gonna repeat any of these experiences again...
Thursday, July 29, 2004
SUEDE: Introducing The Band (DVD)
Alright.. so this is a live dvd about suede. One of the great band from britpop era in midst 90s. Let me get straight. You can't judge suede by this dvd. Suede is great live band. Their performance is always superb, it means they'll always give you 120% of their skill as a live band. But you can't say this after watch this dvd. Maybe it's just the production, i'm not very sure.
This live performance filmed in 1994 from various venue at Aberdeen, Amsterdam, Bradford, Glasgow, Middlesbrough and Paris. After the release of their second album, Dog Man Star.This excellent dvd captures them live after the departure of Bernard Butler and with Richard Oakes filling his giant shoes. Richard does a great job and it's hard to believe he's only 17 at the time.
This is a 10 years old collage. Since then the band has improved in several ways on stage. (It's true, I've seen them last year, and they're magnificent!) Though I'd prefer see Neil Codling than Alex Lee. Not that Alex is not a good musician, but I feel Neil fits my image of Suede as a 'band'. His lazy style etc. Both are not present in this dvd. Of course, it's 94... They are four pieces back then.
My bugging began with no wide-angle view of the stage. It means you can't see all members at a time. The picture is flaws, grainy and not as sharp as usual DVD quality. You don't have a close look at the members at all either. When Richard plays solo, the camera shoot Brett, while he's slapping his arse. I mean, when Mat Osman has a superb bassline, I wanna see Mat, and not Richard, vice versa.
Overall sound is good. You'll get the feeling that you're in a medium-sized hall or something. It's not bad, but it's not good either. But it is the original sound when you see Suede live. You'll like it or not at all, but it doesn't bother me much.
So is this dvd worth buying? Anyway... if you are eager of having a live Suede DVD, buy it. Despite the failures it has, it's worth having it. You know... Suede are Suede. You'll get a whollata good times out of this dvd. But I recommend to look after other Suede's dvd, Lost in TV. A collection of Suede's videography.
Monday, July 12, 2004
Blur, The Best of (DVD)
Ok back to this DVD. DVD ini isinya 22 video klip Blur. Dari album Leisure tahun 1991, sampe album 13 di tahun 2000(?) <- check the year please. Playlist diurutin dari awal sampe video klip yang terakhir. Jadi kalo mo dibilang, loe bakalan bisa ngeliat perjalanan videografi Blur dari awal banget sampe saat ini. Cuma sayangnya ditutup sama No Distance Left To Run dan bukannya Music is My Radar. Gue ga tau kenapa. Padahal di albumnya ada.
Loe bisa ngeliat gimana perubahan Blur, both musically and performance! And even they apparels and hairdos are evolutionary transformed. Mulai dari Graham Coxon's Harry Potter's look di lagu There's no other way sampe Weezerian-look di Coffee and TV. Gue sampe kaget bahkan Damon pernah pake rambut Golldilock?? What the hell?
Somehow DVD ini juga ngingetin gue semasa awal2 gue tertarik dan akhirnya jatuh cinta sama Blur. Lagu Chemical World, Popscene, Sunday Sunday, End of Century dan To The End. It's bloody awesome. Too bad they don't make it to TV today. But it's just because MTV's too dumb to recognize what a real music really sounds. Sad Fuck!
Sayangnya gue belom sempat merhatiin, siapa aja sutradara yang dipake Blur untuk produce vidklipnya. Tapi kalo diliat ciri-ciri produksinya sih kurang lebih sih sama. Popscene sm Song 2, Parklife sm Country Song.. hehe i'm not quite sure then.
Menu DVD-nya sendiri sih biasa aja. Songlist disusun kaya elo ngeliat deretan poster. Play all, then you got it play like a CD audio. Tp kalo loe play dari songlist, loe bisa ngeliat production note dari tiap video klip, mulai dari album mana, sutradaranya dll. Ga ada bonus tambahan, but it's alright.
This sure not the best review out there.. but i guess you'll get the picture. So, jack off that flanky jeans and cracker shirt along with your Dr. Martens shoes, get this DVD and let the 90's begin all over again!
Wednesday, June 23, 2004
Mozzer, you are the target...
Sebenarnya ga selama itu juga sih, ada My Early Burglary Years sm Mallady Lingers On yang dirilis sekitar taun 1999 dan 2000an. Tapi dua album itu album kumpulan hits aja. Yang pertama komplit, yang kedua ditambah Alma Matters.
Di album You Are The Quarry ini, Moz masih didukung sm Alain Whyte & Boz Boorer (gitar), Gary Day (bass), dan anggota baru Dean Butterworth (drums). Gue sendiri lebih seneng Spencer Cobrin buat drummer Moz, tp ga ada keluhan di drummer barunya. Cm agak kurang greget dikiiit aja. Produsernya Jerry Finn, yang juga produser buat Blink 182 or something..
Tracklisting:
1. America Is Not The World
2. Irish Blood, English Heart
3. I Have Forgiven Jesus
4. Come Back To Camden
5. I'm Not Sorry
6. The World Is Full Of Crashing Bores
7. How Could Anybody Possibly Know How I Feel?
8. The First Of The Gang To Die
9. Let Me Kiss You
10. All The Lazy Dykes
11. I Like You
12. You Know I Couldn't Last
Musik Quarry sendiri ga jauh beda sm album2 Moz yg terdahulu, cuma agak lebih keras. Irama lagu-lagunya mungkin ada di antara "Vauxhall and I" sm "Southpaw Grammar" kali ya. Jadi lebih telinga-friendly. Beberapa singel yang cukup catchy, "Irish Blood, English Heart", "The First of the Gang to Die" sm "You Know I Couldn't Last".
Album dibuka sm lagu "America is not the world". Mungkin emang gara-gara Moz skrg tinggal di California. Lagunya sendiri lebih ke satyre, dengan lirik kaya "...but where the President is never black or female or gay, and until that day you’ve got nothing to say to me, to help me believe in America..." Pretty intriguing.
Gue rada kaget aja dengen "Irish Blood, English Heart". It's very Moz.. but hard. IT IS VERY OK! Lagunya heroik banget.
Di "First of the Gang to Die", ada contoh kejeniusan penulisan lirik "He stole from the rich, And the poor, And the not very rich, And the very poor." Iramanya ceria, gue yakin loe bisa goyang kaki dan kepala dengerin lagu ini.. just read this:
Hector was the first of the gang
with a gun in his hand
and the first to do time
the first of the gang to die
such a silly boy
Long live the MOZ... You are the target market!
Friday, June 04, 2004
even a rock scene has a dull moment...
sekian lama gue ngebiarin blog ini mengambang ga jelas. why? karena emang gue rasa lg ada dull moment di dunia musik rock.. mulai dari matinya nu-rock, 'garage rock terencana', sampe 'pseudo-heavymetal wannabe'.
Mungkin aja gue salah dan cuma jenuh ngedengerin musik2 jaman sekarang. Bayangin... padahal ada banyak grup2 baru yg kedengerannya cukup exciting, tp pas dieksplor, ya ternyata gitu2 aja. yang rada istimewa menurut gue dan layak didengar: Funeral For A Friend, Keane... itupun ga cukup kuat buat membangkitkan minat dan gairah gue pada musik. *sigh!*
Atau, mungkin gue udah terlalu patah hati sama musik? shed seven bubar, suede bubar, radiohead vakum, pulp tutup warung, manics udah terlalu komersil. Entah kemana grup2 kaya' portishead, the sundays, dll.
ah gue rasa ini emang DULL MOMENT IN ROCK SCENE..
geu mo beli album barunya cardigans... dan bakal gue review di sini. tunggu aja!
Thursday, March 18, 2004
Ini ada review DVD Manic Street Preachers live di Cardiff Millenium Stadium, 31 Desember 1999 written by my good friend Tyas Palar. I believe you can find her here. Gue agak2 males nerjemahinnya. But she wrote in english briliantly, ya karena dia juga seorang editor/korektor di beberapa penerbitan. Enjoy!
Manic Street Preachers
Leaving the 20th Century
Cardiff Millenium Stadium 1999/2000
I've never watched a full life performance by the Manics, so having Leaving the 20th Century in my hand for the time being is like finding a treasure chest. The gig was held in the Millennium Stadium in Cardiff, Wales, by the turn of the millennium. That is, on the night of 31 Dec 1999 on to 1 Jan 2000. It was a sold out gig, and there were about 57,000 people present. The camera caught people shouting outside before entering the stadium, "History! History!". Indeed, it is history. I wish I had been there. But even only watching it on the glass screen almost brought me to tears. It was very, very moving.
The crowd sang along during the gig. This is the voice of a generation: a generation tired of capitalism and developmentalism. Some people sang with closed eyes, they didn't need to look at the band anymore, they only needed to hear the sound, the sound that represented their own hearts; they knew the words by heart. Some even cried, not because they're in some teenage maniacal love to the band like Westlife fans (no offense here), but because they really felt the music and the words. Imagine how was it--tens of thousands of people together shout at the top of their lungs, "Don't want to see your face, don't want to hear your voice, why don't you just fuck off!" (It's Stay Beautiful, a song about fashion/capitalism victim. On MTV, the words 'fuck off' are erased completely from the video). "Love your masks and adore your failure!"
And, to my surprise but shouldn't have been, the people were also vehement when they performed Walking Abortion, a track out of Holy Bible. "We are all of walking abortion! Shalom, shalom! We all love our children!...Who's responsible? You fucking are!". And they screamed in Motorcycle Emptiness, "Drive around and it's the same, everywhere, death row, everyone's a victim!" The last song was A Design for Life: "Libraries gave us power, then work came and made us free. What price now, for a shallow piece of dignity?...We are not allowed to spend, as we are told that THIS - IS - THE - END."
There's also Richey mentioned. Many of the people, male and female, came dressed like the long lost guitarist. James said before performing Small Black Flowers That Grow in The Sky that it's for his 'coolest vote of the last decade', Richey James. Richey was, in Nicky's words, 'one of the greatest poets' that the world neglects.
Maybe the reason why people love Richey so much is that he was so honest.
He was the Messiah of the generation.
Just like Kurt Cobain.
We had him before Craig Nicholls. And he's even sincere than Craig.
He suffered for us.
He preached to us.
Then he vanished to a place none of us know.
Leaving only his words with us, and we'll keep it in heart.
And Nicky was so, so startling and inspirational. While James and his cousin Sean have left behind the glam appearance behind, Nicky still came out with his fashion disasters (and he's proud of it!). At first, he came on stage in a pink dress, girly socks, and sneakers. With eyeshadows and glitters of course. (Note: Nicky is a MALE. A 190 cm married man.) Then after midnight, he appeared in a blue shirt, tie, football shorts, a pair of manly socks, and sneakers. Still with eyeshadows and glitters. And he played like mad.
Nicky's words about the gig:
Pete Townshend once said that being on stage is like heroin. I've never been on heroin, but to me it felt like, well, it felt like 4 paracetamols. That's the most drugs I've ever taken." (Headache banisher. Yeah right. But then, he doesn't drink, doesn't smoke, doesn't do drugs, his first sex was with his wife.)
Thursday, March 11, 2004
we need a new hero...
Interpol didirikan di New York City tahun 1998. Line-up aslinya adalah Greg maen drum, Daniel (Kessler) gitar, Paul (Banks) vokal dan gitar, dan Carlos (D) maen bass. Antara taun '98 and 2000, empat orang ini giat berlatih membuat sound yang unik di berbagai studio sewaan di New York. Nah selama latihan ini mereka berhasil mengembangkan kreatifitasnya. Di taun 2000 si Greg keluar dari band, membuat Interpol jadi dalam hiatus. Ngga lama kemudia bergabunglah Sam (Forgarino) mantan pegawai sebuah toko kaset yang dikenal sama Daniel. Sam ternyata cocok banget buat maen di Interpol, karena pukulannya ngasih ciri punk yang aggresif dan ritmis buat musik Interpol.
Di blog ini ada yang bilang "...dan anak sekarang kayaknya males untuk baca-baca lagi atau mencoba melacak grup musik idolanya soundnya kayak gimana dan darimana. kayak misalnya mereka langsung nganggep nggak ada band yang lebih 'shocking' dari marilyn manson. kenapa mereka nggak baca-baca mengenai g.g allin atau nyoba beli albumnya? atau menganggap grup yang menggabungkan hip-hop dan metal adalah limp bizkit. padahal tahun 1993 ada soundtracknya film Judgement Night isinya grup rap dan metal semua. dan jauh sebelum itu anthrax sudah duet sama public enemy tahun 1984. dan sudah pake celana adidas.
kalo misalnya mereka suka sama john petrucci, kenapa nggak nyoba dengerin steve morse? kalo suka steve morse kenapa nggak coba dengerin john mclaughlin dan al di meola? kalo suka mclaughlin & meola kenapa nggak dengerin joe pass? untuk sebagian orang mungkin ini cuma buang-buang waktu atau buang-buang duit. tapi kalo kita memang suka musik dan sudah jadi hobby. ini adalah pekerjaan yang menyenangkan. cobalah sekali-kali ke tempat yang jualan kaset/CD/vinyl bekas..."
Anak-anak sekarang emang parah banget sih ya. Taunya cuma Limp biskit ama marylin manson doang. Trus nganggep avril lavigne adalah penyanyi punk cewe dengan gitar yang pertama kali... just listen to L7, man!
Soal dandanan.
Mungkin aja emang ada yang seneng dandan make kemeja item polos, celana jins item juga, trus make sepatu docmart en ngaku GUE PENGGEMAR Ian Curtis? Trus kalo rambutnya diawut2in pake jel dan make eyeliner item tebel di matanya plus lipstik burgundi, trus ngaku penggemarnya Robert Smith.. SO WHAT? Let them be. We just need a new hero
Gue bukannya menganjurkan anak-anak sekarang untuk plin plan en ga punya sikap, limp biskit ngetop, ikutan make topi dibalik. Evanescense ngetop, langsung nge-judge kalo mereka adalah band pendatang terbaik taun ini (in hell!). Ya sedikit konsisten lah. Jangan angin-anginan gitu.
Wednesday, March 10, 2004
NEW ORDER: 511 Finsburry Park 9th June 02 (DVD)
Mungkin banyak yang ga inget sama band lawas asal Manchester, UK, New Order. Band yang dibentuk dari puing-puing grup postpunk 80an Joy Division, ini bisa disebut sebagai pelopor musik techno. Single2 yang rada akrab di telinga di antaranya Regret, Bizarre Love Triangle, She's Lost Control dan Blue Monday. Selama lebih dari dua dekade, band ini tetep bertahan bahkan album terbarunya masih bisa ditemuin di toko-toko kaset yang oke.
New Order dibentuk di Manchester, Inggris sekitar tahun 1980. Critanya, Ian Curtis, Bernard Sumner, Peter Hook, dan Stephen Morris sudah maen bersama sebagai Joy Division selama beberapa tahun, sound dan lagu yang unik mereka selalu mengundang kritik dan pujian, seperti yg ada di rilis Unknown Pleasure. Sebagai band pengusung goth dan industrial terkemuka di Inggris, Joy Division pun bersiap-siap untuk melakukan tur Amerika-nya yang pertama ketika si vokalis Ian Curtis, yang memang sudah lama menderita sakit, melakukan bunuh diri.
Perlu beberapa bulan buat anggota lainnya yang tersisa untuk sembuh dari shock, dan ketika sudah, mereka membentuk kembali sebuah band dengan nama New Order, dengan tambahan anggota baru, Gillian Gilbert. Single pertama New Order dirilis tahun 1981 dan full album beberapa bulan kemudian. Uniknya single ini masih rada bau2 Joy Division. Di rilis2 selanjutnya New Order akhirnya bisa lepas dari bayang-bayang Joy Division, dan menemukan soundnya sendiri sebagai pelopor musik rave dan dance modern Inggris.
Sekarang tentang DVD 511 ini. Bagi gue, bisa ngedapetin DVD-nya New Order aja udah merupakan keberuntungan tersendiri. Banyak review yg gue baca bilang kalo DVD 316 jauh lebih bagus. Ya bisa jadi sih, karena 316 direkam beberapa tahun lebih awal, di mana New Order masih intense manggung dan konser. Bisa jadi karena faktor usia anggotanya yang semakin tua. Tapi dari apa yang gue liat dari DVD ini adalah sebuah band yang udah matang dalam bermusik. Performanya oke, raw but nice. Lagu-lagu seperti Crystal, Regret, Bizarre Love Triangle, Blue Monday jadi tambah hidup. This is the New Order, pure and simple. Konsernya berlangsung sore hari, jadi pas masih terang. Banyak yang komplen soal ini, tapi ga mengurangi experience berada dalam konser New Order kok.
Semuanya ada 16 lagu, 5 lagu Joy Division, 11 lagu New Order, makanya judulnya jadi 511. Sentuhan di lagu terakhir, Your Silent Faces cukup lumayan juga, apalagi lagu ini dimainin malam hari, di saat tata cahaya dan efek-efek panggung khas New Order bisa 'dimainin'. Kualitas suara dan gambar superb, ga ada masalah dengan apa yang keluar dari speaker Creative Inspire gue. Pokoknya puas deh.
Akhir kata, kalo 511 aja bisa sebagus ini, gue juga gatel pengan nyari 316 yang katanya jauh lebih bagus dari 511. A REAL TREASURE...
Monday, March 01, 2004
Quit smothering me
Quit laughing at me
I've got a disease
An English disease
It won't let go
It won't let go
Friday, February 20, 2004
MUSE: ABSOLUTION
Udah sejak 2 bulan yang lalu gue denger lagu2 dari album studio ketiga Muse ini, cm baru seminggu belakangan ini aja kasetnya nongol di sini. Sejak awal gue udah suka sama lagu 'apocalypse, please' yang cm bs gue denger clipnya di website muse.mu. Malah lagu Stockholm Syndrome sm Hysteria yg dijadiin single pertama. Tapi keduanya juga sangat oke kok.
Absolution. itu judul albumnya. Mulai dari mana ya? Oke covernya dulu. Covernya warna abu-abu dengan gambar bayangan manusia in JC pose. Kecuali satu orang yang ga berpose seperti itu, en dia malah memandang ke atas dengan kedua tangan ke bawah, seperti menantang. Apa maksudnya ya? Konsepnya mungkin si Muse ini ga mau seperti grup-grup band yang lain yang cuma ngikut jadi bayangan. Tapi dia berani bersikap menantang. Gitu kali maksudnya ya? Tulisan MUSE dengan logo yang biasa warna kuning ada dalam block kecil warna hitam. Kalo CD tulisannya di bagian kanan atas, kalo kaset di bagian kiri bawah. Cukup catchy.
Sekarang isinya. Musik Muse di album ini lebih mirip ke album Origin of Symetry, which is a good thing. Udah ilanglah bau2 Radiohead di sini. Sound Muse kerasa modern dan advance banget, dengan irama keras dan emosional. Singel Hysteria cukup catchy di kuping en dengan emosi yang sama dengan lagu-lagu lama di album Orgy.. Space Dementia atau Citizen Erased. Lirikpun dibikin lebih dalem, atau seolah-olah punya nuansa seperti itu. Lagu Stockholm Syndrome is superb, demikian juga Apocalypse Please dan Time is Running Out yang berirama ceria.
Sing for Absolution dibuka dengan dentingan piano Matt Bellamy dan suara bass dan drums yang lebih clear. "Copstand" suara Matt juga bagus mixingnya. Suaranya clear dan bisa akrab dengan telinga. Distorsi gitar di lagu ini lebih minimal, dengan background keyboard yg 'spacy', menjadikan ketika kita denger lagu ini seperti agak sedikit melayang-layang di angkasa luar.
Sound yang jauh lebih matang juga terdengar di lagu Butterfly and Hurricane, di mana Matt bermain piano layaknya seorang virtuoso.
Bottom line is Absolution is an album with complex and mature concept. Muse akhirnya serius menemukan sound yang bisa jadi ciri khas mereka dibandingkan sekadar dari lagu Sunburn dan Plug in Baby. Pretty solid rock album!
Wednesday, December 31, 2003
this is the last entry for year 2003...
ga ada yang istimewa. cuma mo ngucapin selamat taun baru 2004. Semoga aja taun dpan bisa lebih baik.
Damn! Besok juga udah ga ngaruh lagi mo taun baru atow bukan
Wednesday, December 10, 2003
Naik Kereta Api...
Sejak efektif kerja di Jakarta awal taun 2000, gue mulai akrab sama yang namanya kereta api. Soalnya, tiap hari jumat gue 'pulang' ke Bandung en menikmati weekend di sono. Selain karena bokin juga tinggal di sana, gue juga pengen tidur akhir pekan gue kerasa lebih adem dibandiing di Jakarta yang sesak n gerah.
Nah, selama 2 taun gue terpaksa deh mengunjungi stasion Gambir setiap hari Jumat sore dan Minggu malem atow Senen pagi. Dan ternyata, setelah gue renungkan banyak juga pengalaman menarik selama gue naik kereta Parahyangan atow Argo Gede ke Bandung. Dari yang menyedihkan sampe mendebarkan. Nih, conto2nya:
Mujur
Setelah buru2 ngibrit dari kantor jam 5 sore, dan ternyata nyampe Gambirnya jam 1/2 7 kurang dikit, gue ama temen gue si Angka segera lari2 menuju loket. Di loket sepi banget. Dalam pikiran gue 'wah pasti berdiri nih!' Segeralah kita beli 2 tiket. waktu itu harganya msh Rp 20ribu aja. Terus langsung naik ke peron. Pas nyampe peron meriksa tiketnya, ternyata kita dapet duduk, cing! Wah mujur banget. Bahagia sejati nih, ga perlu pegel nongkrong di bordes. Setelah keretanya jalan, en pramugarinya berkeliling, kita pun dengan pongahnya mesen 2 piring nasi goreng kereta plus teh botol. Dan kenyanglah perut sampe Bandung. Herannya lagi, setelah nganterin pesenan kita, tuh pramugari ga nongol lagi. Jadi aja kita makan ga bayar hehehe... mujur, mujur.
Burger Mang Donal
Kejadiannya waktu bulan puasa taun 2000 kalo ga salah. Karena jadwal buka puasa en jam berangkat kereta tuh emang deketan, maka gue bersama temen2 berinisiatif beli McD yg emang ada standnya di Gambir. Setelah dapet, kan pesenan tuh dibungkus make brown paperbag ala McD yg emang tipis banget. Karena buru2 pengen nyampe peron, maka lari2lah kita. Dan pas nyampe peron, si paper bag itu pun jebol dengan membawa serta burger dan fries kita ke lantai peron. Damn! Mo beli lg ke bawah ga bakalan sempet lagi. Akhirnya, untuk mengganjal perut yg laper, kita beli donat dr tukang asongan yg ada di stasion jatinegara. Untung aja soft drinknya msh ada.
Biasa Hidup Susah...
Karena saking seringnya dapet tiket TD, alias tanpa tempat duduk, maka ga ada prasangka apa2 waktu kita beli tiket en ga ngeliatin secara detil apa aja yg tertera di tiket itu. Lagian kita ber-6. Maka semua org pun ambil posisi masing2 di bordes. Siap-siap buka perbekalan en tidur (kalo bs). Pas hampir nyampe Stasion Cikampek, datanglah kondektur meriksa tiket. Pas dia liat tiket kita, dia bilang: "Lho Mas ini kan ada nomer tempat duduknya semua di gerbong belakang!" Haa..? Segeralah kita berhamburan ke gerbong yg dimaksut dan mengusir org2 yg lagi keenakan tidur.
Ada Laptop Ilang!
Meskipun kereta Parahyangan hari jumat tuh selalu dipenuhi para komuter yg mudik ke Bandung, ternyata ada juga maling yg nyelinap ngambil kesempatan dlm kesesakan. Seperti biasa kereta penuh. Gue segerombolan juga udah siap di gang buat ngampar. Kereta belom berangkat. Temen gue seperti biasa 'nitip' tasnya di atas tempat barang. Ga berapa lama org yg duduk paling blk berdiri en ngejangkau ke tempat barang di atasnya, tempat si Eko naro tasnya. Terus wajahnya keliatan panik, en dia bilang: "Wah laptop gue ke mana nih?" Sampe dia berdiri2 di atas tempat duduk segala buat ngelongok ke atas. Tapi laptopnya udah raib. Sial dia. Lagian naro laptop di situ.
Astaga...
Duduk ngampar di gang atow di bordes tuh ga selamanya sengsara lho. Kalo loe ngampar di kelas ekse, buat loe para maniak pasti demen banget kalo dilewatin pramugari berkaki panjang yg lewat bulakbalik seliweran. Hehehe.. lumayan tamba kesel. Pengalaman gue + bbrp penumpang di bordes lebih mendebarkan lagi. Suatu kali ada cewe yg lumayan cakep pipis ke WC yg ada di depan kita. Bbrp saat kemudian keretanya bergoncang keras karena ada tikungan, dan secara tiba2 pintu WC terpentang... dan tampaklah pemandangan yang bikin semua yg duduk di bordes jd panas dingin.
Astaga 2
Kejadian seperti di atas ternyata bukan cuma sekali2nya terjadi. Suatu ketika, ada bapak2 umur 35an yg masuk ke WC en berdiam diri agak lama di sana. Beberapa saat kemudian dia buka pintu, en keluar CUMA MAKE KOLOR DOANG! Ternyata celana panjangnya lupa dia pake lagi setelah selesai buang hajat. Setelah masuk ke toilet lagi buat make celana, dia pindah gerbong meninggalkan kita yang terbengong-bengong sambil menahan cengiran.
Rebutan Tempat Duduk
Ga selamanya yang naik Parahyangan tuh orang2 yg literate! Fakta ini perlu dicatat dan diingat. Suatu Jumat, gue bertiga mo pulang. Kita tenang2 aja, karena udah punya tiket. Duduk pula. Jadi rencananya kita bakalan duduk bertiga, karena temen gue yg satu lagi emang ga kebagian tempat duduk. Pas nyampe gerbong, ternyata bangku kita udah didudukin sm 2 orang ibu2. Wah kayanya susah nih. Bener aja. Pas gue bilang bahwa itu kursi gue, dia bergeser ke tengah en bilang, "Ya udah, duduk aja sini bertiga!" Gue terangin lg kalo guepun bertiga. Dia keliatan agak sewot, sambil bilang, "Iya.. adek duduk sini sama saya. Saya juga bayar kok!" Gedeg gue digituin! Trus gue bilang, " Karcis ibu ada nomer bangkunya, engga? Kalo engga ibu harus berdiri." Dibilangin gitu, dianya ngomel panjang lebar... "Kok adek ngotot gitu, sih? Saya kan juga bayar. Jangan salahin saya dong.. saya kan dateng duluan. Salahin aja yg jual karcis. Kenapa karcisnya msh dijual kalo tempat duduknya udah abis.. bla.. bla.. bla.." Seinget gue, sampe stasion Bandung, si ibu itu msh aja kedengeran ngomel. Buset omelan sepanjang 180 km!
Kuntilanak numpang!
Belom pernah naik kereta di lokomotif? Cobain dong sekali-sekali. Gampang banget kok caranya. Deketin aja masinis pas di Gambir. Kasih aja uang rokok 10-20rb. Duduk deh loe di situ. Ternyata pengalaman pak masinis tuh banyak lho. Terutama yg bernuansa gaib. Mulai dari penampakan di pinggir rel, sampe hantu yg ikutan nebeng di kereta! Hiiiy.. Tiba-tiba dengan kalem masinisnya bilang ke gue, "Tuh, kaya di depan ada kuntilanak yg lg nangkring di ujung sana. Tapi tenang aja, entar juga turun lagi."
(to be continued...)
